Kamis, 28 Juli 2016

Friday, 29 July 2016
Jumat kesekian kalinya sudah menempuh kehidupan yakni alakadarnya. Dulu, sedulu dulunya jumat itu berharga banget....
Jaman SMA, kalau hari jumat bawaannya pengen cepet cepet balik ke rumaaah. Ngapain? Cuma buat cek facebook doang. Dulu gue pengguna pasif facebook. Semenjak si kaki seribu datang, gue pengguna aktif tif tif facebook. Berat emang jaman itu..
Kalau sekarang gue emang aktif sekedar cari berita, tapi yang muncul diberanda cuma  "Ketik 1" "Katakan Aamiin". Yaaaah....

Jumat, 10 Juni 2016

Saturday, 11 June 2016
Assalamualaikum, udah lama aja nih gak buka blog. Btw sekarang gue udah keterima di PGSD UPI Kampus Cibiru. Horeeee....
Pengen diceritainnya nanti ah, mau beres-beres dulu. Baru bangun sejam yang lalu. Gravitasi kasur masih kuat membahana...

Kamis, 17 Maret 2016

Friday, 18 March 2016.
Hari H dimana tadi sidang KTI bahasa Inggris. The tittle is "Causes the Hedonism of student Senior High School 1 Baleendah". Bagaimana perasaan? Ah Biasa aja.
*pas keluar*
"Woy ditanya apa tadi didalem? Susah ga? Aaaah aku takut" 80% pasti seperti itu, dominan cewe sih yang gitu.
Rundown: 07:30 seharusnya start, eh boro-boro. *nungguin penguji*
08:00 penguji datang, naik tangga. Kita nyusul dari belakang. Kita ikutan naik. Gue sama 2 Temen lagi masuk ke kelas. Kata guru gue "Eh tunggu, IPS 4 dulu. Laki-laki dulu mau jumatan"
Kita "ah bu kita udah siap"
Guru "Eh gak bisa gitu"
Kita "Ayo bu, kita dulu aja"
Guru "Yaudahlah kalian dulu"

*Gue dan si A nunggu*
*si D lagi persentasiin*
*Blaa..blaa..blaa*
*Giliran gue, bla..bla..nbla*
*keluar manggil peserta selanjutnya*

Sekitar jam 08:30 gue itu harusnya udah balik rumah, eh yah karna gue orangnya gak enakan gitu yah. Sebenernya gue dah jalan buat balik, tapi pas dipikir-pikir "gue udah ketahuan kemarin pulang cepet, lah sekarang juga masa iyah". Dan putar arah lewat Lobby, naik lagi ketangga kelas. Nungguin lagi biar ada temen balik. Ya itulah hari jumat beteku. Oh udah deh. Wassalam

Jumat, 04 Maret 2016

POHON TAK BERBUAH

Suatu ketika Hasan Basri ditanya : Apa rahasia zuhudmu di dunia ini? Kemudian Beliau menjawab: “Aku tahu rezekiku tidak akan diambil orang lain, karena itu hatiku selalu tenang. Aku tahu amalku tidak akan dikerjakan orang lain, kerana itulah aku sibuk beramal shalih. .
Aku tahu Allah Ta’ala selalu memperhatikanku, kerana itulah aku malu jika Allah melihatku sedang dalam maksiat. Dan aku tahu kematian itu sudah menungguku, karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku dengan Allah.”

Rahasia Zuhudnya Hasan Al Basri ini memberi pesan bahwa jangan tertipu dengan usia muda karena syarat mati tidak harus tua.

Jangan terpedaya dengan tubuh yang sehat karena syarat mati tidak mesti sakit.

Jangan terperdaya dengan harta kekayaaan karena si kayapun tidak pernah menyiapkan kain kafan buat dirinya meski cuma selembar.

Teruslah berbuat baik kapan dan di manapun, berniat untuk menjadi manusia terbaik, memberi nasihat yang baik-baik pula, meskipun tidak banyak orang yang mengenalimu dan tidak suka dengan nasihatmu.

Cukup lah Allah yang mengenali Anda lebih dari pada orang lain.

Jadilah bagai jantung yang tidak terlihat, tetapi terus berdenyut setiap saat hingga kita terus dapat hidup, berkarya dan menebar manfaat bagi sekeliling kita sampai diberhentikan oleh Allah ﷻ.
“Waktu yang kusesali adalah jika pagi hingga matahari terbenam, amalku tidak bertambah sedikitpun, padahal aku tahu saat ini umurku terus berkurang” (Ibnu Mas’ud r.a)

Nabi ﷺ bersabda : orang yang cerdas itu adalah orang yang mempersiapkan kematian dan mepersiapkan bekal untuk hidup setelah kematiannya.
Sedikit makan, sedikit tidur, sedikit bicara. Allah mencintai tiga hal dan membenci tiga hal

Abu Ishaq Al Khowwash berkata,

إن الله يحب ثلاثة ويبغض ثلاثة ، فأما ما يحب : فقلة الأكل ، وقلة النوم ، وقلة الكلام ، وأما ما يبغض : فكثرة الكلام ، وكثرة الأكل ، وكثرة النوم

Sesungguhnya Allah mencintai tiga hal dan membenci tiga hal. Perkara yang dicintai adalah sedikit makan, sedikit tidur dan sedikit bicara. Sedangkan perkara yang dibenci adalah banyak bicara, banyak makan dan banyak tidur.

[HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 5: 48]
Setinggi apapun pendidikan seorang perempuan, karir terbaiknya ada di dalam rumahnya, bayaran termahalnya adalah ridho suaminya, dan prestasi terbesarnya ialah ketika mampu mencetak anak-anak yang sholeh/sholehah :)

Kamis, 03 Maret 2016

Bismillah...
Sumber: Anandito Dwis
Semoga bermanfaat..

LELAKI & WANITA
1) Lelaki terindah di mata wanita bukanlah yang paling tampan wajahnya; melainkan yang bisa membuatnya merasa sang tercantik di dunia.
2) Lelaki tergagah di hati wanita bukanlah yang paling kekar ototnya, melainkan yang mampu mendengar, memahami, & mengerti curahan hatinya.
3) Lelaki terkaya bagi wanita, bukanlah yang terbanyak hartanya. Tapi dia yang pandai bersyukur & mengungkapkan terimakasih padanya.
4) Lelaki tershalih bagi wanita, tak sekedar yang banyak ilmu agama & rajin ibadahnya; tapi juga dia yang paling mulia akhlaqnya.
5) Lelaki terhebat bagi wanita, bukanlah yang mampu membelikan apapun untuknya; tapi yang wajah & bahunya siap menyambut senyum & airmata.
6) Lelaki tercinta bagi wanita; dia yang prasangka tak mengalahkan kemuliaan budinya; yang kekesalan tak mengalahkan pengertian & maafnya.
7) Wanita tercantik bagi pria terbaik; mungkin bukan yang paling jelita; tapi yang jika dipandang memberi tenang, hingga surgapun terbayang.
8) Wanita terkuat bagi pria semangat, bukanlah dia yang merasa hebat; tapi yang menundukkan diri dengan ibadat, menempatkan diri dalam taat.
9) Wanita terdahsyat bagi pria penuh tekad, bukan yang pesonanya memukau banyak mata; tapi yang siap jadi madrasah cinta bagi anak-anaknya.
10) Wanita paling kukuh di kehidupan pria nan utuh, bukan yang tak pernah menangis; tapi senyumnya meneguhkan; airmatanya pengingat taqwa.
11) Wanita paling bermakna bagi pria bahagia; dia yang kala berpisah menenangkan, kala berjumpa menggelorakan, tiap masa saling menguatkan.
12) Wanita terkaya di hati pria jatmika, bukan yang bertumpuk harta; tapi yang ridha pada halal semata; qana’ahnya jadi simpanan tak fana.
-Salim A. Fillah-